Potensi Perikanan Papua Barat Daya Besar, Nelayan Kekurangan Sarana dan Praktik Ilegal Masih Terjadi

Simulasi membuat Bubu, salah satu alat tangkap ikan dan mancing ramah lingkungan.Senin (11/8/2025).Maria Baru

 

SORONG, Kasuarinews.com — Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, Daniel Heintje Ndahawali S.PI.M.PI mengatakan potensi perikanan laut di Papua Barat Daya sangat besar. Namun, nelayan masih terkendala keterbatasan sarana dan prasarana penunjang.

Daniel menilai, potensi sumber daya perikanan di Papua Barat Daya sama besarnya dengan wilayah lain di Indonesia. Bahkan, kawasan Raja Ampat tidak hanya terkenal dengan pariwisata baharinya, tetapi juga kaya akan hasil laut yang dapat menjadi sumber peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.

“Secara keterampilan, masyarakat sudah sangat kompeten, tetapi mereka membutuhkan ketersediaan alat. Menurut kami, instansi terkait, khususnya Dinas Perikanan, harus menjembatani melalui pelatihan sekaligus penyediaan sarana prasarana, baik alat tangkap, perahu, maupun motor tempel,” jelas Daniel setelah pelatihan di Kelurahan Saoka, Distrik Maladumes, Kota Sorong, Senin (11/8/2025).

Dua Narasumber didampingi kepala bidang dan keluarahan di kantor lurah Saoka distrik Maladumes, kota Sorong. Senin (11/8/2025).Maria_ Baru

Ia menambahkan, keterbatasan sarana bukan satu-satunya persoalan. Praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan bom dan potasium, masih ditemukan di lapangan. Cara-cara ini dinilai merusak habitat laut sekaligus mengancam kelestarian biota.

“Kalau memancing, targetnya jelas pada jenis ikan tertentu. Tapi dengan bom, rumah ikan hancur dan biota laut lainnya ikut mati. Ini pelanggaran hukum sekaligus merusak ekosistem,” tegas Daniel.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk turun langsung melakukan pemantauan rutin dan memberikan edukasi kepada masyarakat, tokoh adat, pemuda, maupun tokoh agama tentang pentingnya menjaga laut. Menurutnya, langkah tersebut tidak cukup sebatas himbauan, tetapi harus dibarengi dengan monitoring dan penegakan hukum.

Fo bersama peserta, pemateri dan dinas Dukcapil dan PMK provinsi di keluarahan Saoka. Senin (11/8/2025).Maria_Baru

“Menjaga laut berarti menjaga warisan untuk generasi mendatang. Kalau habitat ikan hancur, maka suatu saat ikan tidak akan ada lagi karena rumahnya sudah hilang. Kearifan lokal masyarakat Papua sebenarnya sudah ada, tinggal kita dorong agar lebih kuat,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Prodi Teknik Penangkapan Ikan sekaligus Kepala Pusat Pembinaan Karakter Politeknik KP Sorong, Lay Tjarles S.S.T.PI, memperkenalkan solusi ramah lingkungan berupa penggunaan bubu.

“Bubu bisa dipasang di laut tanpa harus terus dijaga. Nelayan bisa mengerjakan pekerjaan lain. Alat ini ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem,” jelas Lay.

 

Related posts
Tutup
Tutup