Harga Lobster Anjlok,Penutupan Egek Malumkarta Tetap penuh Edukasi dan Kekompakan

Udang Lobster hasil pembukaan sasi dan bagimana kekompakan masyarakat dalam memeriahkan penutupan Egek di Malumkarta, Sabtu (9/8/2025).Istimewa

 

 

SORONG, Kasuarinews.com — Harga udang lobster hasil panen dari pembukaan  egek atau sasi laut di Kampung Malumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, tahun 2025 mengalami penurunan tajam dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, nilai kebersamaan dan edukasi yang terbangun dalam momentum tersebut tetap hidup di tengah masyarakat.

Tokoh penggerak lingkungan dan masyarakat adat Malumkarta, Tori Kalami, mengungkapkan harga jual lobster pada 2024 mencapai Rp 1 juta per kilogram, namun pada 2025 turun menjadi Rp400 ribu per kilogram. Penurunan serupa juga terjadi pada udang bambu, dari Rp700 ribu per kilogram tahun lalu menjadi Rp200–300 ribu tahun ini.

“Tahun ini harga komoditas turun, tapi ada nilai lain yang lebih berharga: kebersamaan, kekompakan, kerja sama, dan edukasi. Nilai itu tidak bisa diukur dengan uang, tetapi menjadi keuntungan besar bagi masyarakat,” ujar Tori,Sabtu (9/8/2025).

Ia menjelaskan, terdapat tantangan eksternal dan internal yang berdampak negatif terhadap pengelolaan egek di wilayah adat Malumkarta Raya. Salah satunya, adanya anggota keluarga sesama orang Moi yang masuk ke kawasan egek tanpa izin.

 “Kami sulit menegur karena ada hubungan emosional keluarga. Akses yang terbuka juga membuat orang luar yang belum memahami budaya atau batas wilayah masuk ke kawasan yang sama,” jelasnya.

Menurut Tori, masyarakat Malumkarta telah memulai inisiatif egek sejak tahun 1999. Ketika pemerintah daerah mulai terlibat, masyarakat sudah terorganisir dan memiliki kesadaran menjaga lingkungan. Bahkan anak-anak turut belajar langsung nilai-nilai pelestarian alam.

“Anak-anak melihat orang memegang jaring, lalu mereka bilang jangan. Mereka sudah tahu sendiri. Pesan moral untuk menjaga ekosistem tersampaikan secara langsung,” tambah Tori.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Perikanan, dan Pertanian Provinsi Papua Barat Daya, Absalom Salossa, mengajak masyarakat Papua untuk menjaga alam dan memanfaatkannya secara bijaksana.

 “Ikan, udang, kayu, dan hasil alam lainnya adalah titipan Tuhan. Mari kita kelola secukupnya, jangan rakus, dan jangan habisi,” tegasnya.

Ia juga mengimbau para orang tua dan ibu-ibu untuk mewariskan bahasa, budaya, tarian, dan busana tradisional kepada generasi muda.

 “Anak-anak sekarang, yang akrab dengan Android, kasur, bantal, dan ponsel, jangan malu menggunakan bahasa ibu dan budaya sendiri,” pesannya.

 

Related posts
Tutup
Tutup