BERITA UTAMA

Ransiki, Cokelat Nikmat dari Tanah Surga Manokwari Selatan
Rabu, 04 Maret 2020 • (*TIM) • 341

Coklat Ransiki dalam bentuk Bar


MANOKWARI-Cokelat ibarat napas kehidupan bagi warga Desa Abreso, Distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat. Napas itu sempat terhenti beberapa tahun sebelum kembali bangkit dengan semangat lebih teguh sejak Manokwari Selatan dimekarkan menjadi sebuah Daerah Otonomoi Baru (DOB) tahun 2012 silam.

 

Cokelat dirintis di Ransiki sebenarnya sejak zaman Belanda. Tetapi baru pada 1980-an, sebuah perusahaan menggelutinya usaha cokelat di tempat itu secara serius dengan menjadikannya sebagai pusat pelatihan cokelat bagi warga Papua dan Papua Barat.

 

Namun pada 2006, perusahaan yang menjadi tempat warga bergantung hidup dinyatakan pailit. Masyarakat yang tinggal di buffer zone Pegunungan Arfak seakan kehilangan pegangan. Meski masih mengusahakan perkebunan cokelat, mereka harus berusaha lebih payah untuk menjual komoditas andalan itu.

 

Baru pada 16 November 2017, Pemda Manokwari Selatan dibawah kepemimpinan Bupati Markus Waran, ST, MM merintis Koperasi Petani Cokran Eiber Suth untuk membangkitkan kembali kejayaan cokelat Ransiki. Hal itu sesuai arti nama koperasi, yakni bersatu untuk bangkit (unity to arise). "Kakao selama ditinggalkan perusahaan sejak 2006, masyarakat petik sendiri dan jual sendiri. Setelah pemekaran, kabupaten terbentuk, pemda baru bentuk koperasi," kata Bupati Waran  saat ditemui di Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2019.

 

Setelah koperasi terbentuk, masa depan Ransiki mulai kembali cerah. Bersama Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YDIH), mereka mengusahakan cokelat yang ramah lingkungan. Tidak ada pestisida buatan mengingat sekitar kawasan itu adalah buffer zone Pegunungan Arfak. Koperasi membeli sekitar 45 ton cokelat dari petani setiap bulan. Harganya kini sekitar Rp. 23 ribu per kilogram. Oleh koperasi, cokelat itu difermentasi dan dijual kepada produsen cokelat olahan yang berminat.

 

Nikmat Bikin Ketagihan

 

Pipiltin Cocoa menjadi produsen lokal yang tertarik memasarkan cokelat Ransiki. Bukan semata kisah para petani Ransiki yang menuai simpati, tetapi cokelat tersebut memang benar-benar nikmat.

 

Berbeda dengan cokelat Aceh yang lebih asam dan pahit seperti citarasa kopi Gayo, cokelat Ransiki juga punya rasa yang unik hingga membuat penikmat cokelat ketagihan. Walau kandungan cokelat terbilang tinggi, sampai 72 persen, cokelat tersebut tak terlalu pahit. "Dari cokelat Ransiki, yang kami temukan rasa umami. Umami itu bisa terasa di seluruh reseptor lidah. Langsung gurih. Rasanya creamy tanpa ditambahkan susu. Jadi, seakan-akan ada susunya," ujar Tissa Aunila, pemilik Pipiltin Cocoa.

 

Cakelat Ransiki dijual dalam bentuk cokelat batangan. Sepuluh persen profit yang didapat, ujar Tissa, akan diserahkan kepada koperasi sebagai modal pengembangan.

 

Untuk itu, kemasan cokelat didesain sedemikian rupa dengan memasukkan sentuhan burung vogelkop, burung endemik yang dikenal jantannya memiliki bulu berwarna biru. Warna biru terang itu berguna untuk merayu betina kawin. "Kita tertarik untuk memasarkan cokelat Ransiki karena pemda komitmen untuk menjaga 72 persen daerah itu tetap sebagai hutan," sambungnya.

 

Menjaga Mata Air

 

Tissa mengatakan pihaknya hanya membuka jalan agar cokelat Ransiki lebih banyak peminat. Apalagi, cokelat Ransiki masih bisa memenuhi banyak produsen. "Kami punya requirement harus fully fermented. Tapi banyak produsen cokelat, terutama yang mass produce, enggak terlalu memedulikan fermentasi. Mereka bisa memenuhi pasar itu juga," katanya.

 

Di sisi lain, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Papua Barat Charlie D Heatubun menegaskan usaha perkebunan cokelat Ransiki harus dipertahankan. Pasalnya, keberadaan mereka bisa menjaga kelestarian hutan Pegunungan Arfak.

 

Tanah subur di Manokwari Selatan membuat cokelat Ransiki bisa berkembang tanpa dipupuk. Di sisi lain, kesuburan tanah itu bergantung pada kualitas hutan. "Kalau hutan rusak, sumber air berkurang. Rasa cokelat jadi tidak enak. Ujung-ujungnya masyarakat yang rugi. Dan mereka sudah sadar soal ini," kata dia.

 

Ekspor Perdana Ke Inggris

 

Setelah lama vakum berproduksi akibat serangan hama, kakao Papua Barat kembali diekspor ke Eropa. Biji kakao tersebut diproduksi Koperasi Ebier Suth Cokran dari Ransiki, Manokwari Selatan.

 

Ketua Koperasi Ebier Suth Cokran Yusuf Kawey mengaku selama 12 tahun perkebunan kakao tidak berproduksi di Ransiki. Sebelumnya, produk dari daerah mereka sempat diekspor ke Prancis. Ia mengakui cokelat Ransiki termasuk kualitas premium setelah melalui ujicoba berkali-kali dan sudah terbukti.

 

Pelepasan ekspor perdana ini dilakukan oleh Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan pada Kamis (9/1/200) lalu di Pelabuhan Manokwari sebanyak 6 ton. Gubernur dalam sambutannya mengapresiasi langkah awal ini sehingga biji kakao dari Manokwari Selatan dapat menembus pasar Eropa dan berpesan agar produksi cokelat Ransiki dapat ditingkatkan setiap tahun dengan tetap berkomitmen mempertahankan kualitasnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Tamaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, Jacob Fonotaba juga membenarkan bahwa kualitas cokeleta Ransiki termasuk kategori premium dan ia optimis produksi cokelat Ransiki akan mampu memenuhi permintaan pasar  setelah ekspor perdana ke Inggris. “Bahkan saat ini negara-negara Eropa sudah mulai mengenal cokelat Ransiki dan saya aptimis ke depan perminataan akan makin meningkat,” ujarnya.

 

Kata dia, saat ini baru 225 ha  lahan colelat di Ransiki yang berproduksi sedangkan cadangan perkebunan mencapai 600 sampai 900 ha.  Untuk itu, lanjut Jacob,  pemerintah Provnsi Papua Barat di tahun 2020 dari APBD induk akan menggelontorkan dana untuk peremajaan tanaman cokelat di Ransiki sebanyak 100 ha.  “Gubernur sudah lihat dan senang karena potensi cokelat di Ransiki begitu menjanjikan. Dan gubernur berjanji jika produksi terus meningkat setiap tahun, maka pemprov Papua Barat terus mendukung melalui penambahan anggaran,” ujarnya. (tim)


#manokwari selatan
#cokelat ransiki

Komentar