BERITA UTAMA

Sejak Pepera, Papua Menghadapi 4 Masalah Besar Hingga Saat Ini
Jumat, 14 Agustus 2020 • (AN) • 107

Ir. Dominggus Urbon


MANOKWARI, Kasuarinews.com – Ir. Dominggus Urbon, staf ahli Dewan  Adat 7 Suku Teluk Bintuni mengatakan bahwa sejak Pepera tahun 1962 yaitu setfgelah Papua berintegrasi dengan NKRI, ada empat persoalan besar yang dihadapi oleh orang Papua sampai saat ini.

“Empat persoalan besar tersebut adalah kapitalisme, industrialisasi, politisasi dan eksploitasi di segala bidang kehidupan orang asli Papua,” ujar Urbon, Jumat (14/8/2020).

Kata dia, kapitalisasi nampak ketika Presiden Jokowi mengatakan bahwa harus ada investor masuk di Papua untuk mengelola Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Papua dengan tujuan agar orang Papua bisa cepat sejahtera dan maju sehingga dapat bersaing dengan daerah lain di Indonesia.

“Juga industrialisasi dimana Papua kini mengalami persoalan internasionalisasi PT Freport di Timika, sejak 1967 , BP Tanggung di Bintuni, Perusahaan Semen Cina di Maruni Manokwari, minyak di Sorong serta banyak sekali yang sudah masuk. Bahkan masioh begitu banyak investor yang sudah siap mengeksploitasi tanah adat masyarakat Papua sehingga orang asli Papua akan terus miskin. Demikian halnya masalah politisasi dimana kini orang Papua berada dalam masalah Politisasi yang begitu berat yaitu bagaimana orang Papua  bertahun-tahun terus berupaya melepaskan diri dari Nasionalisme Indonesia yang menegaskan bahwa NKRI harga mati. Orang Papua juga mengalami eksploitasi luar biasa seperti genosaid dan forestrisaid dengan pengertian bahwa manusia alam serta kebudayaan dalam menghadapi masalah besar terus terdegradasi,” ujarnya.

Kata Urbon, semua orang Papua harus tahu bahwa setiap hari banyak kapal laut dan pesawat pesawat yang masuk ke Papua memuat para pencaker serta migran ke Papua. “Hal ini memberi gambaran bahwa hegemoni warga migran ke Papua merupakan salah satu siasat dan strategi untuk menguasai semua sektor baik internal dan eksternal di Papua. Misalnya, awalnya kaum migran itu datang ke Papua mulai membuka warung-warung kecil dan rumah makan di halaman rumah warga Papua dan lambat laun akan mengambil alih halaman rumah warga, kemudian anaknya disekolahkan dan setelah tamat mengambil jatah PNS milik orang asli Papua. Hal itu ke depan akan menyebabkan lambat laun budaya Papua akan hilang dan digantikan budaya nusantara,” tandasnya.

Menurut Urobon, hal itu perlu direnungkan oleh seluruh orang Papua terutama para elite Papua baik  yang menjadi bupati, wakil bupati, MRP, anggota dewan dan sebagainya agar tidak lagi menggadaikan martabat dan harga dirinya hanya karena jabatan dan uang dengan meminta lanjutkan Otsus jilid 2. 

 


#papua barat

Komentar